Emak-Emak Ikut Jual Rumah Subsidi, Raup Gaji hingga Rp8,5 Juta Per Bulan

Jakarta, 10 November 2025 | Penulis: Ferry Sandi – CNBC Indonesia

Program pembangunan rumah subsidi yang digagas pemerintah tidak hanya memberi manfaat bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk memiliki hunian layak, tetapi juga menumbuhkan peluang ekonomi baru di berbagai lapisan masyarakat. Di balik proyek ini, muncul kisah inspiratif tentang para ibu rumah tangga (emak-emak) yang sukses menjadi tenaga pemasaran rumah subsidi dengan penghasilan yang tak kalah dari pekerja kantoran.

Dampak Ekonomi Rumah Subsidi Capai Akar Rumput

Menteri Pekerjaan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menegaskan bahwa proyek rumah subsidi memberikan efek ekonomi berantai yang luar biasa. Menurutnya, bukan hanya pengembang dan kontraktor yang merasakan manfaat, tetapi juga masyarakat kecil di sekitar proyek.

“Bukan hanya toko bangunan, developer, kontraktor, atau tukang yang bekerja. Sopir, kenek, hingga ibu-ibu warung di sekitar perumahan pun ikut mendapatkan penghasilan. Bahkan banyak yang kini menjadi marketing rumah subsidi,” ujar Maruarar dalam program Property Point CNBC Indonesia, Senin (7/11/2025).

Program perumahan rakyat, lanjut Maruarar, kini membentuk ekosistem ekonomi baru. Setiap pembangunan kawasan perumahan memunculkan peluang kerja dan usaha — mulai dari sektor informal seperti pedagang, pekerja harian, hingga bidang pemasaran properti.

Ibu Rumah Tangga Jadi Tenaga Marketing Properti

Fenomena menarik terjadi di banyak wilayah Indonesia. Sejumlah warga, khususnya para ibu rumah tangga, kini aktif menjadi tenaga pemasaran (marketing) untuk rumah-rumah subsidi. Mereka tak hanya membantu penjualan, tetapi juga menjadi agen perubahan ekonomi keluarga.

Angga Budi Kusuma, Direktur Utama Pesona Kahuripan Group, mengungkapkan bahwa sebagian besar tenaga penjual rumah subsidi di proyeknya berasal dari kalangan ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar lokasi perumahan.

“Warga yang menjadi marketing, rata-rata ibu-ibu. Mereka punya semangat luar biasa, dan hasilnya pun tidak kecil,” ujar Angga.

Raup Penghasilan Hingga Rp8,5 Juta Per Bulan

Pendapatan para ibu rumah tangga yang ikut menjual rumah subsidi ternyata cukup menggiurkan. Dari hasil penjualan dua rumah per bulan, mereka bisa mendapatkan komisi besar dan tambahan uang operasional.

“Satu rumah terjual mereka dapat Rp3,5 juta. Kalau dua rumah, berarti Rp7 juta. Ditambah uang operasional sekitar Rp50 ribu per hari atau Rp1,5 juta per bulan. Jadi total bisa mencapai Rp8,5 juta per bulan,” jelas Angga.

Dengan skema seperti itu, para ibu rumah tangga kini tak hanya berkontribusi dalam mengurus keluarga, tetapi juga menjadi penopang ekonomi rumah tangga. Pendapatan mereka bahkan sebanding dengan pekerja formal di sektor swasta.

Sistem Pemasaran yang Menguntungkan dan Fleksibel

Salah satu alasan mengapa banyak ibu rumah tangga tertarik menjadi marketing rumah subsidi adalah fleksibilitas waktu kerja. Mereka bisa bekerja dari rumah, menggunakan media sosial untuk promosi, dan menjangkau calon pembeli melalui jaringan pertemanan.

Muhammad Ridwan, Direktur Utama PT Kawah Anugrah Properti, menjelaskan bahwa sistem pemasaran yang digunakan dalam proyek rumah subsidi memberi peluang besar bagi siapa pun yang ingin terlibat.

“Marketing rumah subsidi bisa mendapatkan penghasilan antara Rp5 juta hingga Rp20 juta per bulan. Untuk satu rumah saja, mereka bisa memperoleh sekitar Rp2 juta,” ungkap Ridwan.

Ia menambahkan, sistem penjualan berbasis komunitas ini membantu developer memperluas jangkauan pemasaran tanpa harus bergantung pada agen properti profesional.

Peningkatan Kesejahteraan dan Pemberdayaan Perempuan

Fenomena “emak-emak jadi marketer rumah subsidi” ini membuktikan bahwa program pemerintah di sektor perumahan juga memiliki dampak sosial yang kuat, khususnya dalam pemberdayaan perempuan. Banyak ibu rumah tangga kini mampu berdaya secara ekonomi tanpa meninggalkan tanggung jawab domestik.

Selain menjadi sumber penghasilan baru, keterlibatan mereka juga membangun rasa memiliki terhadap lingkungan perumahan tempat mereka tinggal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menciptakan komunitas yang lebih solid dan berdaya saing.

“Pembangunan rumah subsidi bukan hanya soal menyediakan tempat tinggal, tapi juga soal membuka peluang kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tambah Ridwan.

Ekosistem Rumah Subsidi Dorong Pertumbuhan Ekonomi Lokal

Pemerintah mencatat, sejak program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi diluncurkan, dampak ekonominya telah menjangkau berbagai sektor. Dari pembangunan hingga pasca-penjualan, kegiatan ekonomi di sekitar proyek tumbuh pesat — termasuk munculnya usaha baru seperti warung, jasa transportasi, dan penyedia bahan bangunan.

Kegiatan seperti akad massal KPR yang digelar di berbagai daerah pun memperlihatkan antusiasme tinggi masyarakat terhadap program ini. Pada akhir September 2025, misalnya, pemerintah mencatat lebih dari 26.000 akad KPR subsidi dilakukan serentak di Cileungsi, Kabupaten Bogor.

Harapan Pemerintah: Rumah Subsidi Jadi Motor Ekonomi Rakyat

Menteri PKP Maruarar Sirait berharap agar keberhasilan ini terus dijaga dan dikembangkan. Ia menilai, kehadiran para pelaku lokal, termasuk ibu rumah tangga yang menjadi tenaga marketing, adalah bukti nyata bahwa pembangunan perumahan mampu menciptakan multiplier effect yang luas.

“Rumah subsidi bukan hanya menyediakan tempat tinggal yang layak, tapi juga menggerakkan ekonomi rakyat. Setiap rumah yang dibangun menciptakan lapangan kerja, dari tukang hingga ibu-ibu yang menjadi bagian dari sistem ini,” ujarnya.

Maruarar menegaskan, pemerintah akan terus memperluas program ini agar semakin banyak masyarakat yang dapat merasakan manfaatnya, baik dari sisi tempat tinggal maupun ekonomi.

 

Sumber: cnbcindonesia.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

string(0) ""