Easton Group Resmi Gandeng GSENC Korea Selatan Kembangkan Hunian Menengah di Bintaro
Bisnis properti kawasan Bintaro kembali menggeliat setelah Easton Group mengumumkan kolaborasi strategis dengan perusahaan konstruksi global asal Korea Selatan, GSENC Development Indonesia (GSDI). Kemitraan ini akan memfokuskan pengembangan kawasan hunian segmen menengah, memanfaatkan momentum insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) yang diperpanjang hingga 2027.
Direktur Utama Easton Group, William Liusudarso, optimistis proyek ini dapat diserap pasar dengan baik selama 3 hingga 4 tahun ke depan, terutama di tengah tren konsumen yang semakin selektif memilih hunian dengan harga terjangkau namun tetap berlokasi strategis.
Easton Group Fokus pada Hunian Terjangkau: Respon terhadap Tren Preferensi Konsumen
Di tengah kondisi ekonomi yang dinamis, William mengungkapkan bahwa masyarakat kini semakin memprioritaskan hunian dengan harga ramah kantong. Menurutnya, proyek bersegmen menengah akan menjadi pilihan paling realistis bagi pembeli rumah pertama atau keluarga muda.
Selain itu, kebijakan PPN DTP yang diberlakukan pemerintah terbukti memberikan pengaruh signifikan dalam mendorong minat beli rumah.
“Kami melihat insentif PPN DTP sangat membantu konsumen untuk mengambil keputusan pembelian. Karena itu, kami percaya proyek ini akan memiliki tingkat serapan yang tinggi,” jelas William.
Langkah kolaborasi lintas negara ini dinilai menjadi strategi yang tepat untuk menarik lebih banyak konsumen dengan tetap menjaga kualitas desain dan konstruksi.
Proyek Berlokasi di Bintaro: Permintaan Tinggi, Peluang Pasar Besar
Di sisi mitra internasional, Chief Representative GSDI Shin-Ho Cho mengungkapkan alasan utama pemilihan kawasan Bintaro sebagai lokasi proyek. Menurutnya, permintaan terhadap rumah tapak di Bintaro masih sangat kuat, didorong oleh perkembangan infrastruktur dan aksesibilitas yang semakin baik.
Lahan 3 Hektare untuk Hunian Modern
Proyek yang digarap Easton Group bersama GSDI akan berdiri di atas lahan seluas 3 hektare, menawarkan desain hunian modern yang mengikuti tren gaya hidup masyarakat urban. Shin-Ho Cho menekankan tiga faktor penentu minat konsumen yang menjadi fokus konsep pengembangan, yaitu:
- Lokasi strategis
- Desain unik dan kekinian
- Harga yang terjangkau untuk pasar menengah
“Kami optimistis pasar properti ke depan akan terus tumbuh, terutama dengan prospek kawasan Bintaro yang semakin menjanjikan,” ujar Cho.
GSDI: Perusahaan Global Berpengalaman di Banyak Proyek Internasional
GSDI bukan nama baru di dunia konstruksi internasional. Perusahaan ini merupakan bagian dari GS E&C, salah satu perusahaan teknik dan konstruksi besar asal Korea Selatan. GS E&C telah terlibat dalam berbagai proyek besar di sejumlah negara seperti:
- Indonesia
- Singapura
- Polandia
- Arab Saudi
- Thailand
- Amerika Serikat
- Vietnam
Pengalaman global inilah yang menjadi nilai tambah kolaborasi dengan Easton Group, memastikan kualitas pembangunan sesuai standar internasional serta memberikan nilai investasi jangka panjang bagi konsumen.
Prediksi Pasar Properti 2026: Rumah Tapak & Lahan Industri Masih Jadi Penopang
Menurut laporan Leads Property, sektor properti pada 2026 diperkirakan masih ditopang oleh dua segmen utama:
- Lahan industri
- Hunian rumah tapak (landed house)
Director Research & Consultancy Leads Property, Martin Hutapea, menyatakan bahwa preferensi masyarakat saat ini masih kuat terhadap rumah tapak dibandingkan apartemen. Hal ini dipengaruhi oleh kebutuhan ruang yang lebih luas serta kecenderungan keluarga memilih hunian dengan privasi lebih tinggi.
Namun, Martin juga menyoroti tantangan besar di industri properti: melemahnya daya beli masyarakat.
Tantangan Pasar: Daya Beli Melemah, Insentif Perlu Diperluas
Daya beli yang melemah tercermin dari anjloknya penjualan kendaraan dan kebutuhan lain yang sebelumnya menjadi indikator ekonomi utama. Martin menilai bahwa upaya pemerintah untuk mendorong penjualan properti tidak cukup hanya mengandalkan skema PPN DTP.
BPHTB 5% Dinilai Membebani Konsumen
Selain PPN, pembeli rumah juga dibebani oleh Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sebesar 5%, yang dinilai cukup tinggi bagi banyak calon pembeli.
“Kalau pemerintah bisa ikut menanggung atau memberikan keringanan BPHTB, baik dari pusat atau daerah, efeknya akan jauh lebih terasa bagi industri,” tegas Martin.
Dengan kata lain, keberlanjutan insentif tambahan di luar PPN DTP akan menjadi kunci pemulihan sektor properti secara keseluruhan.
Kolaborasi Easton Group dan GSDI: Angin Segar Bagi Pasar Hunian Menengah
Kerja sama antara Easton Group dan GSDI menjadi salah satu sinergi strategis yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan pasar hunian menengah di wilayah Jabodetabek, khususnya Bintaro. Dengan lansekap permintaan yang stabil, fasilitas kawasan yang berkembang, serta dukungan pemerintah melalui insentif, peluang penyerapan pasar dinilai sangat besar.
Proyek ini juga menunjukkan bahwa kolaborasi internasional masih menjadi kekuatan penting dalam pengembangan properti, terutama ketika kebutuhan masyarakat terus berubah dan persaingan semakin ketat.
Harapan Baru bagi Pengembangan Hunian di Bintaro
Kemitraan Easton Group dan GSDI dari Korea Selatan bukan sekadar kerja sama bisnis, melainkan langkah strategis untuk memberikan hunian modern dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat. Dengan dukungan regulasi seperti PPN DTP dan potensi pasar rumah tapak yang terus meningkat, proyek ini diprediksi menjadi salah satu penggerak utama sektor properti di Bintaro dalam beberapa tahun mendatang.
Kehadiran perusahaan internasional dalam pengembangan proyek lokal juga memperkuat standar mutu sehingga konsumen mendapatkan hunian yang lebih berkualitas, fungsional, dan bernilai investasi tinggi.
Apabila implementasi insentif diperluas serta daya beli masyarakat kembali menguat, maka sektor properti Indonesia—termasuk proyek ini—akan berada pada posisi yang lebih stabil dan optimistis menuju 2026.
Sumber: ekonomi.bisnis.com



